Bupati Cilacap Kembangkan Pariwisata Nusakambangan

Posted by Lensa News Online | | Posted in

Cilacap - Bupati Cilacap Tatto Suwarto optimistis bisa sukses mengembangkan potensi pariwisata Pulau Nusakambangan. Terlebih lagi, Kementerian Hukum dan HAM telah memberikan lampu hijau atas ide tersebut.

"Kami yakin potensi pesona wisata di Pulau Nusakambangan tidak kalah dibanding tempat wisata di Bali," kata Tatto Suwarto, di Cilacap, Selasa (4/3/2014).

Selama ini, menurut Bupati, kerusakan di Pulau Nusakambangan ditimbulkan oleh illegal logging atau kegiatan yang merusak lingkungan lainnya. Sehingga kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna yang ada di dalamnya terancam punah.

Pihaknya bersama DPRD telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM dan mendapat restu terkait hal itu. Upaya kerja sama untuk pengelolaan Nusakambangan terus dilakukan Pemkab Cilacap.

Di Nusakambangan terdapat pantai pasir putih yang memesona. Goa-goa juga banyak yang tentu saja punya daya tarik istimewa.

Sumber : Kompas.com

Menjaring Turis Australia dari Bali ke Yogyakarta

Posted by Lensa News Online | | Posted in

Yogyakarta - Plt Kepala Dinas Pariwisata DIY Didik Purwadi mengatakan pihaknya akan mendorong pariwisata daerah ini lebih maju.

"Saya optimistis bahwa peluang pariwisata DIY untuk menjadi destinasi unggul di tingkat nasional bahkan internasional masih menjanjikan," kata Didik di Yogyakarta, Selasa (4/3/2014).

Menurut Didik, kendala pemasaran pariwisata yang selama ini menjadi salah satu persoalan harus dibenahi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) maupun kelengkapan fasilitas pendukung lainnya.

"Saya berencana mendorong wisatawan Australia yang ada di Bali untuk bisa datang ke DIY. Tentu hal ini dibutuhkan kepintaran para pramuwisata sehingga bisa meyakinkan wisatawan Australia bahwa Yogyakarta nyaman dan aman dikunjungi," katanya.

Persoalan aspek psikologis wisatawan yang paling tahu di lapangan adalah para pramuwisata dan mereka sebenarnya ujung tombak pariwisata paling depan.

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istidjab Danunagoro mengakui pelaku industri pariwisata termasuk pengelola hotel di daerah ini selama ini selalu agresif memasarkan pariwisata Yogyakarta di luar negeri.

"Yogyakarta masih prospek untuk wisata MICE (meeting, incentive, convention and exhibition). Saya optimistis pada 2014 wisata MICE DIY akan lebih ramai dibanding tahun sebelumnya," tambah Istijab.

Pangeran Diponegoro "Hidup" Kembali di Jakarta

Posted by Lensa News Online | | Posted in

Jakarta - Selasa malam (5/3/2014) di Museum Sejarah Jakarta, lelaki bersorban putih itu dikisahkan sebagai sosok yang berbahaya secara politik. Ia pernah memimpin sebuah perang melawan pemerintah Hindia Belanda sehingga harus diasingkan ke Ambon.

Ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di pulau kelahirannya, Pulau Jawa.

Dengan sorban putihnya, masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai sosok Pangeran Diponegoro.

Seorang pahlawan nasional yang dikenal melalui buku-buku sejarah serta berbagai gambar tentang sosoknya yang berkuda dan bersorban putih. Saat itu, sosok Sang Pangeran seolah hidup kembali.

Ini adalah pentas pembacaan dramatik oleh Landung Simatupang dengan judul “Sang Pangeran : Ke Pengasingan”.

Sosok Pangeran Diponegoro dihidupkan melalui pentas yang berlangsung selama 30 menit di Museum Sejarah Jakarta.

Pentas berlangsung di salah satu ruangan di sayap barat Museum Sejarah Jakarta yang merupakan bekas kediaman Kepala Penjara Belanda.

Tidak banyak yang tahu bahwa di tempat ini Pangeran Diponegoro pernah ditahan bersama keluarganya sebelum diasingkan ke Manado.

“Inilah bagian dari sejarah kita yang akan hidup kembali melalui pementasan Landung Simatupang. Kita akan menyaksikan suatu momen bersejarah di Museum Sejarah Jakarta. Dengan pementasan ini, kita menciptakan sejarah,” ujar Enny Prihantini, Direktur Museum Sejarah Jakarta.

Pementasan ini hanya sebagian dari pertunjukan utama yang akan dilaksanakan pada Kamis, 6 Maret 2014 pukul 19.30 – 21.30 WIB di Bentara Budaya Jakarta.

Pementasan dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Diponegoro. Teks yang dipentaskan diambil dari buku Kuasa Ramlan karya sejarawan Peter Carey dan Babad Diponegoro yang merupakan autobiografi Sang Pangeran.

Kalau hanya baca teks, tidak akan paham dengan suasananya. Tapi melalui pementasan seperti ini, masyarakat bisa mengenal fakta sekaligus suasananya.

Sumber : Kompas.com

Kekayaan Kuliner Nusantara Perlu Sentuhan Kreatif

Posted by Lensa News Online | | Posted in

Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf, Syamsul Lussa menyatakan Indonesia memiliki beragam kuliner yang belum digarap secara maksimal sehingga perlu sentuhan kreatif untuk menjadikannya sebagai makanan khas Nusantara yang dikenal dunia.

"Sedikitnya ada 300 etnis di Indonesia yang memiliki kuliner, namun yang tergarap baru sekitar 10 persen saja. Karena itu kami di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan terus mendorong juru masak mengembangkan kreasi dalam penyajian makanan kepada wisatawan yang datang ke Tanah Air," kata Syamsul Lussa di sela pameran "Food, Hotel and Tourism Bali 2014" di Nusa Dua, Kamis (6/3/2014).

Syamsul mengatakan peluang Indonesia untuk memperkenalkan makanan kepada masyarakat dunia cukup terbuka, karena masing-masing etnis dan daerah memiliki makanan khas yang patut diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

"Beragam kuliner tersebut menjadi khazanah menu makanan Nusantara sehingga ini juga menjadi penunjang pariwisata yang ada di Indonesia," ucapnya.

Menurut Syamsul, wisatawan asing yang datang ke Indonesia tidak hanya ingin menikmati keindahan pemandangan dan seni budaya, tetapi mereka juga ingin menikmati kuliner daerah."Wisatawan asing juga ingin mencicipi kuliner daerah yang dikunjungi. Namun sampai saat ini belum semua daerah mampu menyajikan makanan tersebut berkelas restoran dan hotel berbintang," ujarnya.

Menyinggung upaya promosi kuliner Indonesia, lanjut Syamsul, seiring kemajuan pariwisata di Tanah Air, maka semua elemen masyarakat dan para juru masak hotel harus melakukan inovasi dan kreativitas sehingga mampu menarik minat wisatawan untuk menikmati menu makan tersebut.

"Kita harus mampu mempromosikan kuliner Indonesia seiring pesatnya perkembangan pariwisata di Tanah Air. Kita harus mampu bersaing dalam menyajikan makanan," ucapnya.

Syamsul mengakui makanan Indonesia yang terkenal adalah rendang. Kini makanan asal Sumatera tersebut sudah mampu menembus pasar dunia. "Rendang menjadi makanan favorit di dunia internasional, bahkan mendapat predikat nomor satu dunia," katanya.

Syamsul mengharapkan setelah masakan rendang dikenal di dunia, nasi tumpeng Nusantara juga akan semakin dikenal di dunia. "Kami sudah lakukan promosi dalam setiap kesempatan pameran. Selain itu, di setiap kegiatan yang berkaitan kuliner di hotel juga disajikan nasi tumpeng Nusantara tersebut," katanya.Sementara itu, Senior Projek PT Pamerindo Indonesia, Wiwiek Roberto mengatakan pameran "Food, Hotel and Tourism Bali 2014" bertujuan untuk mencari flatform ideal restoran, ritel serta perwakilan perhotelan agar bisa terhubung dengan beragam dan banyaknya produk serta jasa sehingga bisa memberi solusi yang tepat untuk pengembangan bisnis.

"Sejalan dengan perkembangan tren pasar yang dinamis serta terus berubah maka setiap produk perlu dipamerkan sehingga semakin dikenal dan berkaitan dengan bisnis pariwisata tingkat dunia,"

Rantok, Seni Menumbuk Padi

Posted by Lensa News Online | | Posted in

Ade ne onyak-maik pendait bai si lemak mudi

(Apa yang kita lakukan hari ini agar mendapatkan kebaikan buat anak-cucu kelak...)

”Bismillaahirrahmaanirrahiim…” ujar H Bustahar. Lalu mulutnya komat-kamit seraya menaburkan beras kuning dan bunga-rampai ke arah rantok (antan).

Maming, perempuan di samping Bustahar, kemudian belawas (menyanyi) tentang puja-puji terhadap Sang Khalik dalam bahasa Sasak, Lombok. Lewat nyanyian, Maming memohon agar apa yang dilakukan generasi hari ini akan menjalar sebagai kebaikan pada masa datang.

Semua penonton bergeming. Dalam keheningan suara Maming ditingkahi suara seruling. Suasana bertambah magis setelah cahaya lampu menimpa tubuh-tubuh para penampil. Itulah sekelumit ritual dalam pertunjukan kesenian rantok sebagai acara pembuka Gebyar Musik NTB di Taman Budaya NTB, Mataram, Nusa Tenggara Barat, beberapa pekan lalu.

Dalam acara itu ditampilkan kesenian tiga etnis besar di NTB: Sasak, Samawa (Sumbawa), dan Mbojo (Dompu, Bima), ditambah kesenian etnis lain, seperti reog ponorogo dan barongsai. Kata Dodi Subiantoro, Kepala Pengembangan Mutu Taman Budaya NTB, pentas ini mengangkat kesenian tradisi yang mulai punah, menerima pluralisme dan multikultarisme dalam kehidupan masyarakat, sambil senantiasa merawat budaya yang telah diwariskan nenek moyang.

Salah satu wujud pewarisan budaya itu adalah seni rantok asal Desa Nyiur Lembang, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Rantok (mirip kareko kandai di Dompu dan Bima) adalah seni antan yang dipukulkan pada lesung secara ritmis sehingga menimbulkan bunyi seperti gamelan. Para pemain yang berjumlah 10 orang memukul bagian pinggir rantok, yang dua di antaranya bertugas sebagai dirigen atau pemugah.

Rantok secara fungsional adalah alat kerja untuk menumbuk padi dan ketan yang nantinya setelah berbentuk beras atau tepung diolah menjadi kue wajik, dodol, dan lainnya. Menu makanan ini biasanya dihidangkan saat acara puncak gawe urip, seperti pernikahan dan khitanan.

Dalam kehidupan di pedesaan, bila seorang warga mengadakan acara, beberapa hari sebelum hari puncak, epen gawe (tuan rumah) didatangi para tetangga, tua-muda, untuk ikut membantu bekerja. Jika tuan rumah sudah siap dengan bahan-bahan kuliner, rantok dipukul dengan irama tertentu, disebut rangsangan, bertujuan untuk mengundang warga berkumpul di rumah si empunya hajat.

Seperti acara pembuka tadi, seorang kiai memimpin acara pemeras, ritual memohon doa kepada Sang Khalik agar prosesi acara berjalan lancar hingga selesai. Setelah acara ritual, dimulailah acara menumbuk bahan-bahan kuliner. Suara rantok yang beradu bagaikan ensambel musik penghibur bagi pekerja sekaligus meramaikan suasana di rumah si empunya gawe.

Memang setelah 1975, dengan adanya mesin penggilingan yang hemat tenaga manusia, menumbuk padi dan ketan dengan rantok jarang dilakukan meski beberapa desa di Lombok Barat dan Lombok Utara masih mempertahankannya, terutama saat ada acara gawe belek (gawe besar), bahkan menumbuk dengan rantok menjadi bagian ritual Maulid Adat masyarakat Desa Bayan, Lombok Utara.

Seni pertunjukan

Seniman berperan besar dalam menjadikan rantok sebagai media ekspresi dan berkesenian, khususnya seni pertunjukan. ”Kami menambah beberapa vokalis dan pemain seruling sebagai alat pengiring suara rantok biar kesenian ini lebih hidup,” ucap H Warti Asmunadi, Kepala Desa Nyiur Lembang, juga Ketua Kelompok Kesenian Rantok.

Sebagai seni pertunjukan, rantok memiliki unsur drama, tarian, dan nyanyian. Sang vokalis biasanya berdendang sambil menari dan menyanyikan lagu dengan lekukan suara khas (cengkok) Sasak Lombok, diiringi irama pukulan rantok yang mirip gending Bali dan gending rudat (kesenian yang musiknya dipengaruhi unsur musik Timur Tengah).

Syair yang dinyanyikan berbentuk pantun berisi nasihat, sindiran, serta kritik terhadap realitas sosial yang tumbuh dan berkembang dalam laju zaman kekinian. Sebutlah pantun ”Ujan Mas”: rambas tereng jurang ganti (tebas bambu di Jurang Ganti (nama lokasi), durus langan jok mendura (telusur jalan ke mendura (nama lokasi), ganggas sedeng sak sengari (tinggi semampai, berusia muda lagi), turut aran lantong ruen (sejalan nama dengan paras wajahnya). Pantun ini menggambarkan perilaku yang sejatinya dimiliki tiap individu: kata dan perbuatan jadi satu.